Membaca Hutan Bakau Melalui Pengalaman Seorang Nelayan

Pak Udin menyiapkan alat pancingnya di hutan mangrove Desa Pengudang, Teluk Sebong, Bintan. Atas izin NTU CCA Singapore.

Membaca Hutan Bakau Melalui Pengalaman Seorang Nelayan

Hutan mangrove hutan mangrove berperan penting sebagai tempattumbuhnya sekitar 700 miliar ikan kecil dan biota laut lainnya di seluruh dunia. Penelitian juga mencatat sekitar 4,1 juta nelayan yang kebanyakan berasal dari Asia bergantung pada ekosistem ini untuk mencarinafkah.

Di Desa Pengudang, Kecamatan Teluk Sebong, Pulau Bintan, banyak warga yang masih menggantungkan hidup dari mencari hasil laut di hutan mangrove. Salah satunya Pak Awalludin, atau yang akrab disapa Pak Udin. Ia lahir dan besar di desa ini. Baginya, sungai mangrove dulu adalah tempat bermain. Ia mengenang: “Sejak kecil sudah biasa. Dari umur tujuh atau delapan tahun, kami main di sungai, berenang.”


Citra satelit Desa Pengudang yang terletak di antara hutan bakau di sepanjang sungai yang bermuara ke Laut Cina Selatan.

Citra satelit Desa Pengudang yang terletak di antara hutan bakau di sepanjang sungai yang bermuara ke Laut Cina Selatan.

Salah satu ikan yang sering ia temukan di mangrove adalah ikan sembilang, jenis ikan yang hidup di dasar lumpur sungai. Selain itu, tangkapan lain yang umum adalah udang yang bersembunyi di bawah daun di genangan air dangkal, lokan (kerang mangrove) yang tertanam sebagian di lumpur, serta kijing yang biasanya ada di bagian sungai yang berpasir.

Untuk menangkap udang, Pak Udin masih menggunakan alat tradisional yang ia buat sendiri, namanya tanjul. Alat ini dibuat dari lidi daun kelapa, benang jahit, dan sedikit kawat. Cara kerjanya unik, mata udangakan tersangkut.

Selalu ada petunjuk sensorik yang memberi tahu Pak Udin di mana dia dapat menemukan hewan-hewan tertentu. Untuk menemukan kepiting, salah satu temuan favoritnya karena harganya yang tinggi di pasaran, ia berbagi bahwa kepiting dapat ditemukan ketika ada banyak lubang di lumpur bakau, terutama di pangkal pohon. Lubang-lubang ini merupakan indikator liang bawah tanah yang dibuat kepiting untuk berlindung, sebuah proses yang juga menyediakan habitat bagi mikroorganisme yang mendaur ulang nutrisi di dalam tanah.

Cara lain adalah alur, yaitu sungai yang lebih dalam dengan arus yang agak kuat. Saat air surut, ikan kecil dan udang biasanya berkumpul di saluran sungai seperti ini. Kombinasi dari petunjuk-petunjuk ini, yang dibangun dari pengalaman hidupnya sejak kecil, membantu para nelayan seperti dia untuk secara efektif membaca dan memahami lingkungan yang kompleks ini.

Saluran sungai kecil yang melewati hutan bakau yang menurut Pak Udin telah menebal selama bertahun-tahun. Atas izin NTU CCA Singapore.

Saluran sungai kecil yang melewati hutan bakau yang menurut Pak Udin telah menebal selama bertahun-tahun. Atas izin NTU CCA Singapore.

Namun, menurut Pak Udin, sekarang sudah banyak berubah. Dulu, sungainya cukup dalam untuk berenang, sekarang lebih sempit dan dangkal, sehingga lebih sulit menemukan udang dan ikan kecil. Menurutnyaada beberapa penyebab, antara lain hujan deras yang membawa tanah ke sungai, sampah plastik yang tersangkut di akar mangrove dan menahan lumpur, serta akar-akar besar pohon Rhizophora yang membantumenahan garis pantai, juga ikut menangkap dan menahan endapan lumpur. Akibatnya, dasar sungai makin meninggi dan airnya jadi makin dangkal setiap tahun.

Dalam video berikut, Pak Udin bercerita lebih jauh tentang pentingnya mangrove dalam kehidupannya, serta perubahan yang ia rasakan selama bertahun-tahun.

Video



Artikel Terkait

Awalludin
Awalludin
Fisher, Pengudang Village, Teluk Sebong, Bintan

Awalludin adalah seorang nelayan dan pemilik Bunda Homestay di Desa Pengudang, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan. Sejak kecil, ia tinggal dan bermain di hutan mangrove Pengudang. Ia pernah bekerja di Pemerintah Desa Pengudang. Ia menyukai dunia kelautan dan saat ini berfokus pada pariwisata serta kegiatan menangkap ikan di wilayah pesisir.