Mangroves as Home for the Living and their Ancestors

Johanes Jamil di pemakaman leluhur masyarakatnya di Kampung Masiran, Kawal, Bintan. Januari 2026. Atas azin NTU CCA Singapura.

Mangroves as Home for the Living and their Ancestors


Sebagian besar warga tinggal di rumah panggung kayu yang berada di dua sisi, satu menghadap ke laut lepas tempat mereka mencari ikan, satu lagi berbatasan dengan hutan mangrove yang lebat, tempat merekamemasang perangkap kepiting. Untuk sampai ke desa ini, kita harus naik perahu saat air pasang. Namun saat air surut seperti ketika kami berkunjung, kita bisa berjalan kaki di atas hamparan pasir. Sebelum turundari dermaga, kami diminta melepas alas kaki sebagai bentuk penghormatan, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan tanpa alas kaki.

Seperti di Desa Pengudang, sebagian besar mangrove yang ditanam di sepanjang pesisir adalah mangrove jenis Rhizophora. Mangrove jenis lain, seperti perepat (Sonneratia alba), yang sebelumnya tidak berhasilditanam. Beberapa pohon Rhizophora kelihatan lebih besar dibanding yang lain. Johannes yakin bahwa pohon-pohon tua itu kemungkinan ditanam oleh buyutnya terdahulu.

Sejak kecil, ia juga diingatkan bahwa propagul bukanlah mainan:
“Jangan dimain-main jadi sayur. Pasang. Masukkan ke tanah.”
Bagi mereka, propagul adalah mahluk hidup yang mesti dijaga dengan penuh perhatian.

Hutan mangrove sangat penting bagi sumber kehidupan sebagai tempat mencari ikan kecil dan kepiting, sumber obat-obatan, hingga tempat mengambil kayu untuk membangun rumah. Bahkan, alasan kenapamakam para leluhur mereka tidak jauh dari kawasan mangrove hanya kurang dari satu kilometer adalah karena tanaman seperti nipah (Nypa fruticans) ada fungsinya dalam ritual dan upacara adat.



Artikel Terkait

Johanes Jamil
Johanes Jamil
Pemimpin Komunitas Orang Laut di Kawal, Kampung Masiran, Bintan

Johanes Jamil, yang lebih dikenal dengan nama Jembol, adalah keturunan generasi ketiga dari komunitas Orang Suku Laut yang menetap di Kawal, Bintan, dan saat ini menjabat sebagai kepala komunitas di Kampung Masiran. Ia memiliki hubungan yang erat dengan keluarga-keluarga Orang Laut di Bintan dan Lingga, serta meneruskan pengetahuan maritim, tradisi budaya, dan kepemimpinan komunitas yang diwariskan dari generasi ke generasi. Setelah menyelesaikan sekolah, Johanes menerima beasiswa untuk menempuh studi Pendidikan Agama dan Filsafat di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia kemudian kembali ke Bintan, dan pada tahun 2024 bergabung dengan Island Foundation sebagai fasilitator lokal yang mendukung pendidikan anak-anak. Dengan ketertarikan besar pada pembelajaran yang berakar pada budaya, Johanes percaya bahwa pendidikan seharusnya memperkuat pola pikir tanpa menghapus identitas. Saat ini, ia mengajar di berbagai pusat belajar di Bintan, sekaligus bekerja sebagai guru agama, pemain sepak bola yang antusias, dan penari yang berdedikasi.