Hutan bakau di perbatasan antara daratan dan laut, Isla del Rosario, Kolombia, 2016. Atas izin Dr. Pierre Taillardat.

Nanyang Assistant Professor at Asian School of the Environment

Hutan bakau di perbatasan antara daratan dan laut, Isla del Rosario, Kolombia, 2016. Atas izin Dr. Pierre Taillardat.
Dr Pierre Taillardat, Dosen di Nanyang Technological University sekaligus Ketua Peneliti di Wetland Carbon Lab, menjelaskan pentingnya mangrove sebagai salah satu ekosistem utama Blue Carbon, selain rawa garaman (saltmarsh) dan padang lamun(seagrass).
Istilah “blue carbon” pertama kali dicetuskan dalam laporan United Nations Environment Programme (UNEP) tahun 2009, untuk merujuk pada hutan pesisir ini dengan tujuan menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan kebijakan. Istilah inidikembangkan dari konsep sebelumnya, yaitu “Green Carbon”, yang mengacu pada karbon yang tersimpan di hutan daratan.
Berbeda dengan karbon biru, di mana sebagian besar karbon tersimpan di dalam tanah, sebagian besar karbon hijau tersimpan di pepohonan hutan darat. Foto dari Hutan Rawa Gambut Mendaram di Brunei Darussalam. Atas izin Pierre Taillardat.

Ekosistem Blue Carbon merupakan salah satu yang paling efisien dalam menyerap karbon dari atmosfer dan menyimpannya di dalam tanah dalam jangka waktu yang lama. Dr Taillardat menganalogikan: “Kita bisa melihat siklus karbon sepertirekening bank. Kita mau tahu berapa banyak karbon yang tersimpan, di mana disimpan, dan bagaimana pergerakannya di antara atmosfer, lautan, dan ekosistem lainnya.”
Melalui penelitiannya, pertukaran gas karbon seperti karbon dioksida dan metana antara berbagai komponen tersebut diukur secara kuantitatif. Gas-gas ini dikenal dengan “gas rumah kaca” karena mampu menjebak panas matahari. Meskipun panas dibutuhkan untuk kehidupan di Bumi, jika berlebihan di atmosfer akibat pembakaran bahan bakar fosil oleh aktivitas manusia, maka menyebabkan pemanasan global. Keberadaan mangrove dan ekosistem Blue Carbon lainnyalah yangdapat membantu mengurangi kelebihan karbon ini dari atmosfer.
Dr. Taillardat sedang memasang peralatan untuk mengukur stok dan fluks karbon di hutan bakau Can Gio, Vietnam pada tahun 2017. Atas izin Dr Pierre Taillardat.

Sampel air dan tanah yang dikumpulkan di Hutan Mangrove Can Gio, Vietnam, 2017. Atas izin Dr Pierre Taillardat.

Hutan mangrove sangat sempurna untuk menyerap karbon secara efektif dari atmosfer. Pertama, mangrove merupakan vegetasi yang sangat produktif, sehingga mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam biomassanya. Kedua, kondisi tanah yang tergenang air dan minim oksigen memperlambat proses penguraian bahan organik yang jatuh, sehingga mampu meyimpan karbon lebih lama. Ketiga, akar napas mangrove yang mencuat ke atas mampu menangkap sedimen yang terbawa arus pasang dari tempat lain, sehingga tanah dapat menyerap karbon yang banyak secara bertahap.
Akar penopang pohon Rhizophora yang menancapkan pohon bakau dan memungkinkan pernapasan bahkan di tanah bakau yang tergenang air. Atas izin Dr. Pierre Taillardat.

Sebagian besar mangrove yang masih alami di dunia terletak di lokasi terpencil yang sulit dijangkau. Data kuantitatif lapangan yang dikumpulkan Dr Taillardat sangat penting sebagai bukti bagi pembuat kebijakan untuk “menilai” ekosistem ini secaraterukur.
Upaya penguatan konsep “blue carbon” mampu mendorong pengembangan proyek konservasi dan restorasi mangrove berbasis masyarakat di berbagai negara.
Dr Taillardat menjelaskan bahwa salah satu kekuatan proyek konservasi mangrove ini adalah adanya dukungan pendanaan dan organisasi internasional. Umumnya, proyek tersebut juga melibatkan masyarakat setempat dan memberikan manfaatekonomi. Namun, menurutnya masih ada keterbatasan: “Tingkat keberhasilan penanaman mangrove sering kali tidak terdokumentasi dengan baik, dan kalaupun ada, tingkat kelangsungan hidupnya cukup rendah. Masalah utamanya adalah banyakproyek yang hanya menanam saja tanpa mempertimbangkan kondisi ekologi dan hidrologi lokasi,” jelasnya.
Nelayan dengan sampan memasuki sungai bakau kecil untuk mencari ikan di Pengudang, Bintan. Atas izin NTU CCA Singapore.

Meskipun mangrove sering dianggap sebagai penyerap karbon, Dr Taillardat menekankan bahwa ini bukan alasan kenapa mangrove perlu dilindungi. Ia menyatakan: “Dulu mangrove sering dipandang negatif karena berlumpur penuh nyamuk dan tidakada nilai ekonomi. Tetapi sekarang, ilmu Blue Carbon menunjukkan bahwa mangrove adalah salah satu ekosistem paling berharga karena banyaknya manfaat yang diberikan. Selain menyerap karbon, mangrove juga menjadi habitat penting bagikeanekaragaman hayati, melindungi pesisir dari erosi dan naiknya air laut, serta menjadi sumber kehidupan bagi nelayan setempat. Semua ini manfaat yang perlu kita gaungkan.”
