Ibu Syukri Jeti, Ibu Junah dan Ibu Hayat bekerja di Pembibitan Mangrove Pengudang, Teluk Sebong, Bintan. Salah satu tugas penting di persemaian: mengisi polibag dengan lumpur bakau sebagai persiapan penanaman bibit. Atas izin NTU CCA Singapura.
Para pengelola Taman Kanak-kanak yang dikelola masyarakat di Desa Pengudang
Perbanyakan pohon mangrove Rhizophora mucronata dalam polibag di persemaian mangrove Pengudang, Teluk Sebong, Bintan. Foto oleh NTU CCA Singapore.
Perbanyakan pohon mangrove Rhizophora mucronata dalam polibag di persemaian mangrove Pengudang, Teluk Sebong, Bintan. Foto oleh NTU CCA Singapore.
Saat ini, sebagian besar propagul yang dirawat berasal dari tiga jenis mangrove: Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, dan Bruguiera gymnorrhiza. Dari pengalaman mereka, Rhizophora mucronata paling mudah dijadikan bibit dan ditanam karena ukurannya lebih besar. Harga satu propagul berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000.
Different species of mangrove propagules growing in polybags. From left:Bruguiera gymnorhiza, Rhizophora stylosa, Rhizophota mucronata. Courtesy NTU CCA Singapore.
Different species of mangrove propagules growing in polybags. From left:Bruguiera gymnorhiza, Rhizophora stylosa, Rhizophota mucronata. Courtesy NTU CCA Singapore.
Jenis tanah juga sangat menentukan keberhasilan tumbuhnya mangrove. Tanah yang digunakan biasanya adalah campuran lumpur hitam dari mangrove dengan pasir. Seperti dijelaskan Ibu Jeti: “Warnanya tidakhitam, cuman keabuan-abuan gitu. Karena dia campur. Tidak berderai, tidak juga lembek. Jadi sedang. Tapi lengket.”
Ibu Hayat checking on propagules at the nursery. Courtesy NTU CCA Singapore.
Ibu Hayat checking on propagules at the nursery. Courtesy NTU CCA Singapore.
Walaupun pertumbuhan mangrove tergolong lambat, beberapa warga sudah mulai melihat perubahan pada mangrove maupun cara pandang masyarakat terhadap mangrove sejak kegiatan ini berjalan.
Kini, semakin banyak orang yang mulai peduli terhadap mangrove, apalagi setelah melihat manfaat ekonominya. Seperti kata Ibu Junah: “Kalau dulu kan sering diambil. Kalau sekarang kan tidak boleh lagi. Sudahdijaga. Jadi perubahan.” Dengan semakin banyak orang yang mulai memperhatikan hutan bakau karena mereka melihat nilai moneter hutan bakau, dan manfaat ekonomi yang dapat dihasilkan dari kegiatan-kegiatan ini, diharapkan hal ini akan mendorong lebih banyak mata pencaharian yang dipimpin oleh masyarakat yang berlandaskan pada perawatan jangka panjang untuk lingkungan ini.
Simak penjelasan dari para ibu-ibu dalam video di bawah ini tentang pekerjaan mereka di pembibitan di Desa Pengudang.
Artikel Terkait
Ibu Hayat
Member of Pengudang Village, Teluk Sebong, Bintan
Ibu Hayat is an active member of the community-led mangrove nursery in Pengudang Village, Bintan. She is born and raised in the village.
Ibu Junah
Member of Pengudang Village, Teluk Sebong, Bintan
Syukri Jeti
Member of Pengudang Village, Teluk Sebong, Bintan