Pengelola Kebun Mangrove Komunitas di Desa Pengudang

Ibu Syukri Jeti, Ibu Junah dan Ibu Hayat bekerja di Pembibitan Mangrove Pengudang, Teluk Sebong, Bintan. Salah satu tugas penting di persemaian: mengisi polibag dengan lumpur bakau sebagai persiapan penanaman bibit. Atas izin NTU CCA Singapura.

Pengelola Kebun Mangrove Komunitas di Desa Pengudang

Kebun mangrove di Desa Pengudang terletak di tepi sungai, terhubung langsung dengan hutan mangrove alami yang sudah tumbuh lebat di bagian hulu. Di sinilah bibit-bibit mangrove dirawat sampai cukup kuatuntuk ditanam atau dijual. Kegiatan ini mulai dirintis pada tahun 2016 oleh Pak Iwan Winarto dari Sekolah Mangrove Pengudang, bekerja sama dengan Pak Henky Irawan dan para dosen dari Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH). Seiring waktu, semakin banyak warga yang tertarik ikut bergabung. Dari kegiatan ini, masyarakat juga bisa mendapatkan tambahan penghasilan dengan menjual propagul untuk berbagaiprogram penanaman mangrove di Pulau Bintan yang diselenggarakan baik oleh LSM, pelaku ekowisata, maupun swasta.

Saat ini, kebun ini dikelola oleh delapan orang perempuan dari Desa Pengudang. Dari cerita Syukri Jeti, Ibu Junah, dan Ibu Hayat, kita bisa merasakan seperti apa pekerjaan ini.

Sebelum bibit mangrove ditanam di sepanjang garis pantai, propagul dirawat terlebih dahulu sampai mulai tumbuh daun. Kegiatan sehari-hari di kebun yaitu mengambil tanah yang cocok dari kawasan mangrove, memilih propagul yang layak tanam, mengisi polybag dengan campuran tanah, dan lain-lain. Kadang-kadang, para lelaki juga membantu mengambil propagul dari lokasi yang sulit dijangkau.

Untuk memastikan propagul itu sehat, mereka memilih porpagul yang mulus, tidak cacat, dan tidak ada bekas gigitan monyet yang kadang datang mencari makan atau sekadar bermain.


Perbanyakan pohon mangrove Rhizophora mucronata dalam polibag di persemaian mangrove Pengudang, Teluk Sebong, Bintan. Atas izin NTU CCA Singapore.

Perbanyakan pohon mangrove Rhizophora mucronata dalam polibag di persemaian mangrove Pengudang, Teluk Sebong, Bintan. Atas izin NTU CCA Singapore.

Saat ini, sebagian besar propagul yang dirawat berasal dari tiga jenis mangrove: Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, dan Bruguiera gymnorrhiza. Dari pengalaman mereka, Rhizophora mucronata paling mudah dijadikan bibit dan ditanam karena ukurannya lebih besar. Harga satu propagul berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000.

Berbagai spesies propagul mangrove yang tumbuh di dalam polybag. Dari kiri: Bruguiera gymnorhiza, Rhizophora stylosa, Rhizophota mucronata. Atas izin NTU CCA Singapura.

Berbagai spesies propagul mangrove yang tumbuh di dalam polybag. Dari kiri: Bruguiera gymnorhiza, Rhizophora stylosa, Rhizophota mucronata. Atas izin NTU CCA Singapura.

Jenis tanah juga sangat menentukan keberhasilan tumbuhnya mangrove. Tanah yang digunakan biasanya adalah campuran lumpur hitam dari mangrove dengan pasir. Seperti dijelaskan Ibu Jeti: “Warnanya tidakhitam, cuman keabuan-abuan gitu. Karena dia campur. Tidak berderai, tidak juga lembek. Jadi sedang. Tapi lengket.”

Ibu Hayat memeriksa bibit di pembibitan. Atas izin NTU CCA Singapura.

Ibu Hayat memeriksa bibit di pembibitan. Atas izin NTU CCA Singapura.

Walaupun pertumbuhan mangrove tergolong lambat, beberapa warga sudah mulai melihat perubahan pada mangrove maupun cara pandang masyarakat terhadap mangrove sejak kegiatan ini berjalan.

Kini, semakin banyak orang yang mulai peduli terhadap mangrove, apalagi setelah melihat manfaat ekonominya. Seperti kata Ibu Junah: “Kalau dulu kan sering diambil. Kalau sekarang kan tidak boleh lagi. Sudahdijaga. Jadi perubahan.” Dengan semakin banyak orang yang mulai memperhatikan hutan bakau karena mereka melihat nilai moneter hutan bakau, dan manfaat ekonomi yang dapat dihasilkan dari kegiatan-kegiatan ini, diharapkan hal ini akan mendorong lebih banyak mata pencaharian yang dipimpin oleh masyarakat yang berlandaskan pada perawatan jangka panjang untuk lingkungan ini.

Simak penjelasan dari para ibu-ibu dalam video di bawah ini tentang pekerjaan mereka di pembibitan di Desa Pengudang.

Wawancara video dengan Ibu Hayati, Ibu Junah, dan Ibu Syukri Jeti.

Wawancara video dengan Ibu Hayati, Ibu Junah, dan Ibu Syukri Jeti. Dokumentasi NTU CCA Singapore.


Sumber Daya Tambahan

[Platform] CarbonEthics Website


KONTRIBUTOR

Ibu Hayati
Ibu Hayati
Warga Desa Pengudang, Teluk Sebong, Bintan

Hayati atau biasa disapa Yati adalah ibu rumah tangga berusia 58 tahun yang lahir dan besar di Desa Pengudang, Kabupaten Bintan. Sehari-harinya, ia aktif dalam berbagai kegiatan pelestarian mangrove, mulai dari pembibitan, penanaman, hingga mendukung berbagai kegiatan komunitas yang berkaitan dengan ekowisata dan edukasi lingkungan. Selain itu, Yati juga mengisi waktu luangnya dengan mengajar mengaji bagi anak-anak di rumahnya. Sebagai anggota komunitas, ia kerap terlibat dalam kegiatan penerimaan kunjungan tamu dari berbagai daerah maupun mancanegara, termasuk membantu menyiapkan hidangan serta memperkenalkan kreativitas dan kearifan lokal masyarakat Pengudang. Baginya, kesempatan bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara dan memperkenalkan budaya lokal menjadi pengalaman yang paling berkesan.

Ibu Junah
Ibu Junah
Warga Desa Pengudang, Teluk Sebong, Bintan

Junah, yang akrab disapa Mak Anjang, menghabiskan hari-harinya dengan merawat kebun bunga, membantu nelayan memilih ikan bilis, serta memelihara ayam dan ikan hias di rumahnya. Memasak dan menyiram tanaman menjadi bagian dari rutinitas yang ia nikmati, berdampingan dengan kepeduliannya terhadap lingkungan pesisir. Sebagai anggota komunitas, Mak Anjang aktif mengikuti kegiatan penanaman mangrove dan kerap membantu menyiapkan hidangan dalam berbagai kegiatan masyarakat. Bagi perempuan berusia 62 tahun yang lahir dan besar di Pengudang ini, kebersamaan menjadi hal yang paling berharga. Ia senang berkumpul bersama ibu-ibu lainnya saat menanam mangrove, berbagi cerita dan canda, lalu menyaksikan pohon-pohon yang mereka tanam tumbuh subur. Pengalaman sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga alam juga berarti merawat hubungan antarsesama.

Ibu Jetti
Ibu Jetti
Warga Desa Pengudang, Teluk Sebong, Bintan

Berpindah dari Sumatera Barat ke Desa Pengudang sekitar tujuh tahun lalu membawa Syukri Jetti Dwisma, yang akrab disapa Jetti, menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir Bintan. Selain mengurus keluarga, ia aktif sebagai pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan terlibat dalam berbagai kegiatan PKK. Di waktu luangnya, Jetti senang berpetualang dan menjelajahi tempat-tempat baru. Keterlibatannya dalam kegiatan pembibitan mangrove mempertemukannya dengan banyak pengalaman baru dan mempererat hubungan dengan warga sekitar. Bagi Jetti, momen paling berkesan adalah kebersamaan saat merawat bibit mangrove bersama anggota komunitas, serta kegembiraan ketika bibit-bibit tersebut dibeli oleh pengunjung sebagai bagian dari upaya pelestarian lingkungan. Baginya, menjaga mangrove bukan hanya tentang merawat alam, tetapi juga membangun semangat gotong royong di tengah masyarakat.