Terumbu Karang dan Restorasi di Perairan Singapura yang Keruh

Sam Shu Qin saat melakukan survei terumbu karang dalam kegiatan lapangan menyelam. Raja Ampat, Indonesia, August-September 2018. Foto oleh Virginia Bria. Dokumentasi milik Sam Shu Qin.

Terumbu Karang dan Restorasi di Perairan Singapura yang Keruh

Sam Shu Qin dikenal sebagai ahli biologi kelautan sekaligus pengajar di National University of Singapore College. Di kampus tersebut, ia mengampu berbagai mata kuliah yang mendorong mahasiswa untuk terlibat langsung dengan komunitas pesisir di kawasan regional guna memahami cara masyarakat menjaga, mengelola, dan hidup berdampingan dengan lingkungan laut. Selain itu, Sam juga menjadi salah satu pendiri Our Singapore Reefs (OSR), sebuah platform komunitas yang dibentuk pada tahun 2017. Melalui OSR, ia menyelenggarakan kegiatan bersih-bersih bawah laut, edukasi publik, serta program sosialisasi yang bertujuan mendekatkan masyarakat dengan kehidupan laut Singapura. Di samping aktivitas komunitas tersebut, Sam turut terlibat dalam restorasi terumbu karang lewat pekerjaannya bersama NUS Tropical Marine Science Institute (TMSI).

Awal mula berdirinya OSR tidak terlepas dari pengalaman langsung Sam saat menyaksikan rapuhnya kondisi terumbu karang setempat. Ketika melakukan survei terumbu, ia menemukan begitu banyak sampah yang berakhir di laut dan menumpuk di kawasan karang. Sebagian limbah kemungkinan sengaja dibuang ke laut, sementara sebagian lainnya terbawa arus hingga akhirnya tersangkut di terumbu. Dalam kedua kondisi tersebut, karang mengalami tekanan besar karena sampah dapat menutupi, merusak, bahkan menghancurkannya. Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa kerusakan terumbu karang sering kali terjadi jauh dari perhatian masyarakat. Melalui kegiatan penyelaman untuk membersihkan laut, edukasi publik, dan keterlibatan komunitas, OSR berusaha membuat kehidupan bawah laut Singapura lebih terlihat sekaligus menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadapnya. Dalam berbagai kegiatan tersebut, Sam pernah menemukan kasur hingga seperangkat alat barbeque yang dibuang ke laut. Ia bahkan pernah menemukan mesin cuci yang menimpa dan merusak sebagian terumbu karang, seperti terlihat pada video berikut.

Mesin cuci dan sampah yang ditemukan saat survei penyelaman di perairan Singapura yang keruh. Pulau Seringat, Singapura, 27 Juli 2017. Dokumentasi milik Sam Shu Qin.

Sampah di sekitar terumbu karang di perairan Singapura yang keruh. Singapura, 24 Juli 2020. Dokumentasi milik Sam Shu.

Sebagian besar terumbu karang di Singapura berada di sekitar Kepulauan Selatan, meskipun komunitas karang yang lebih kecil juga ditemukan di wilayah East Coast Park dan Pasir Ris. Banyak orang beranggapan bahwa perairan Singapura terlalu keruh atau tercemar untuk mendukung kehidupan karang. Namun, menurut Sam, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Hingga saat ini, lebih dari 250 spesies karang keras telah tercatat hidup di Singapura meskipun kondisi perairannya sangat keruh dan kaya sedimen.

Kekeruhan air tersebut erat kaitannya dengan pembangunan pesisir, reklamasi, pengerukan laut, dan aktivitas pelayaran yang berlangsung selama beberapa dekade. Berbagai aktivitas tersebut meningkatkan sedimentasi sekaligus memberikan tekanan terus-menerus terhadap terumbu karang Singapura. Ancaman lain, seperti tumpahan minyak dari kapal yang melintas, sampah laut, serta perubahan iklim, turut memperparah kondisi dan membuat karang semakin rentan mengalami pemutihan.

Kehidupan terumbu karang di perairan Singapura yang keruh. Pulau Kusu, Singapura, 21 September 2024. Dokumentasi milik Sam Shu Qin.

Dari para profesor, Prof Chou Loke Ming, dan anggota senior komunitas penyelam di Singapura, Sam mengetahui bahwa jarak pandang bawah laut pada masa lalu jauh lebih baik dan bahkan dapat mencapai 15 meter. Saat ini, jarak pandang biasanya hanya berkisar antara dua hingga lima meter. Dalam kondisi perairan yang keruh seperti ini, jenis karang yang mampu bertahan umumnya ialah karang yang dapat beradaptasi dengan cahaya rendah dan tingginya sedimen. Salah satu contohnya adalah Turbinaria, karang berbentuk lembaran menyerupai kubis yang mampu menangkap cahaya lebih banyak melalui permukaannya yang lebar. Ada pula Platygyra yang dikenal sebagai brain coral karena pola permukaannya menyerupai labirin otak. Selain itu, terdapat Porites, karang masif berbentuk bongkahan besar dengan permukaan halus yang membantu mencegah sedimen mengendap di atasnya. Sebaliknya, beberapa jenis karang lain mengalami kesulitan bertahan hidup, misalnya Acropora, karang bercabang yang umum ditemukan di perairan jernih di kawasan lain, tetapi kurang cocok dengan kondisi Singapura. Sementara itu, Stylophora kini berada dalam kondisi sangat terancam akibat urbanisasi pesisir, sedangkan Seriatopora hystrix bahkan telah mengalami kepunahan lokal.

Karena itulah, perlindungan terhadap terumbu karang menjadi hal yang sangat penting. Sam menilai Sisters’ Islands Marine Park sebagai tonggak penting karena merupakan taman laut pertama di Singapura. Ia juga menyebutkan bahwa kawasan taman laut baru di area Lazarus-Kusu telah diumumkan.

Sisters’ Islands Marine Park, https://www.littledayout.com/sisters-islands-marine-park-floating-boardwalk-coastal-forest-trail/. Dokumentasi milik NParks.

Sisters’ Islands Marine Park, https://www.littledayout.com/sisters-islands-marine-park-floating-boardwalk-coastal-forest-trail/. Dokumentasi milik NParks.

Spesies karang Turbinaria mesenterina. ONE°15 Marina Sentosa Cove Singapore’s coral garden, 17 Juni 2021. Dokumentasi milik Sam Shu Qin.

Karang Acropora. Pulau Kusu, Singapura 16 Maret 2021. Dokumentasi milik Sam Shu Qin.

Di Singapura, sebagian besar proyek restorasi karang dijalankan oleh NParks dan NUS TMSI dengan dukungan dari OSR. Yang paling penting, metode restorasi harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat. Sebagai contoh, Acropora umumnya tidak digunakan karena karang bercabang tersebut memerlukan air yang lebih jernih agar dapat tumbuh optimal dan kurang sesuai dengan perairan Singapura yang penuh sedimen. Sebaliknya, kondisi tersebut lebih cocok bagi karang berbentuk lembaran maupun karang masif. Struktur “laba-laba karang” juga dianggap kurang ideal karena dasar laut Singapura cenderung miring dan tidak stabil. Selain itu, struktur tersebut lebih mendukung pertumbuhan karang bercabang dibandingkan jenis karang yang lebih dominan di Singapura. Oleh sebab itu, pembibitan karang atau coral nursery dimanfaatkan sebagai tempat sementara bagi fragmen-fragmen karang kecil, termasuk “karang peluang” yang terlepas secara alami maupun akibat kecelakaan, agar dapat pulih dan tumbuh kembali. Setelah ukurannya mencapai kira-kira sebesar telapak tangan, karang tersebut kemudian ditempelkan pada batu yang stabil atau struktur restorasi lainnya. Dalam proyek-proyek ini, digunakan pula struktur fiberglass hijau berbentuk menyerupai pot bunga serta balok beton berat yang membantu menjaga kestabilan karang di perairan Singapura yang berombak.

Pembibitan karang apung. Taman karang ONE°15 Marina Sentosa Cove Singapura, 19 Oktober 2023. Dokumentasi milik Sam Shu Qin.

Salah satu proyek terbesar yang dijelaskan Sam adalah pemasangan delapan struktur terumbu ber-relief tinggi setinggi 10 meter di kawasan Sisters’ Islands. Proyek tersebut dikembangkan oleh NParks dan JTC dengan masukan dari para ilmuwan NUS TMSI. Menurut Sam, proyek ini menjadi salah satu yang paling menarik karena strukturnya berbeda dari blok karang biasa yang hanya ditempatkan di dasar laut. Setiap struktur memiliki tinggi setara rumah tiga lantai dan menjulang melewati sebagian besar kolom air sehingga menciptakan berbagai tingkat habitat bagi karang, ikan, serta biota laut lainnya. Permukaan beton dan fiberglassnya dibuat lebih kompleks dengan tambahan batu daur ulang agar larva karang dan organisme lain memiliki tempat untuk menempel dan berkembang. Secara keseluruhan, struktur tersebut menambah sekitar 500 meter persegi area terumbu di taman laut dan mengubah dasar laut berpasir yang sebelumnya kosong menjadi habitat baru bagi kehidupan laut.

Kontributor

Sam Shu Qin
Sam Shu Qin
Ahli biologi kelautan dan dosen di NUS College

Sam adalah seorang ahli konservasi laut dan pendidik yang berdedikasi pada upaya restorasi terumbu karang di Asia Tenggara. Penelitiannya berfokus pada peningkatan keanekaragaman hayati pada struktur buatan, rehabilitasi terumbu karang yang terdegradasi di lingkungan laut perkotaan, serta kolaborasi dengan komunitas pesisir dalam berbagai inisiatif restorasi. Ia merupakan salah satu pendiri Our Singapore Reefs, sebuah inisiatif yang bertujuan meningkatkan kesadaran tentang keanekaragaman hayati laut Singapura sekaligus mendorong kolaborasi masyarakat dan keterlibatan publik dalam ilmu pengetahuan dan konservasi kelautan. Saat ini, Sam mengajar di NUS College, di mana ia memimpin proyek-proyek interdisipliner serta bekerja sama dengan komunitas di Indonesia dalam kegiatan konservasi laut yang melibatkan mahasiswa sarjana. Kontribusinya terhadap masyarakat juga tercermin melalui perannya sebagai Wakil Ketua Friends of Marine Park, di mana ia turut mendukung upaya pelestarian Taman Laut Sisters' Islands melalui berbagai program yang digerakkan oleh masyarakat.