Keanekaragaman karang yang ditemukan di lepas pantai Teluk Bakau, Bintan, November 2025. Dokumen milik NTU CCA Singapore.

Apa itu Terumbu Karang?
Terumbu karang adalah hewan hidup yang menghuni perairan dangkal bertemperatur hangat di wilayah tropis dan subtropis. Hewan ini membentuk salah satu ekosistem paling beragam di bumi. Meskipun tampak seperti batu atau tumbuhan, setiap karang sebenarnya terdiri dari ratusan hingga ribuan hewan kecil yang disebut polip karang. Polip karang masih berkerabat jauh dengan ubur-ubur dan anemon laut. Bentuk tubuhnya sederhana, dengan mulut yang dikelilingi tentakel untuk menangkap makanan dari air.
Setiap polip hidup di dalam kerangka keras yang terbuat dari kalsium karbonat. Melalui proses yang disebut kalsifikasi, karang menyerap mineral terlarut dari air laut dan secara perlahan membangun struktur seperti batu di bawah tubuhnya. Seiring berjalannya waktu, polip tumbuh, membelah diri, dan saling terhubung hingga membentuk koloni besar. Koloni-koloni inilah yang secara bertahap menciptakan struktur tiga dimensi yang kita kenal sebagai terumbu karang.
Karang tergolong pemangsa aktif. Tentakelnya dilengkapi sel-sel penyengat kecil untuk menangkap plankton dan organisme kecil lainnya. Namun, sebagian besar energi karang diperoleh dari hubungan kemitraan yang erat dengan alga mikroskopis bernama zooxanthellae yang hidup di dalam jaringan tubuhnya. Alga ini memanfaatkan sinar matahari untuk memproduksi gula melalui fotosintesis, yang kemudian menjadi sumber makanan bagi karang. Sebagai imbalannya, karang menyediakan nutrisi dan tempat tinggal yang aman bagi alga. Hubungan saling menguntungkan ini disebut simbiosis, yang juga memberikan warna-warna indah pada karang. Namun, ketika karang mengalami stres akibat suhu panas, pencemaran, atau perubahan kondisi lingkungan lainnya, karang dapat mengeluarkan alga ini dari tubuhnya sehingga warnanya berubah menjadi putih. Proses ini dikenal sebagai pemutihan karang (coral bleaching).
Keberadaan terumbu karang sangat krusial bagi kehidupan laut. Berbagai jenis ikan, kepiting, udang, moluska, cacing, spons, dan tak terhitung organisme lainnya bergantung pada karang sebagai tempat mencari makan, berlindung, memijah, dan tumbuh besar. Walaupun terumbu karang hanya mencakup kurang dari satu persen dari dasar laut, ekosistem ini menyokong sekitar seperempat dari seluruh spesies laut, menjadikannya salah satu habitat dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.
Terumbu karang juga sangat penting bagi masyarakat pesisir. Strukturnya yang keras dan berlapis membantu meredam hempasan gelombang sebelum mencapai pantai, sehingga melindungi kawasan pesisir dari erosi, banjir, badai, serta kerusakan lainnya. Di Asia Tenggara, tempat banyak komunitas hidup berdampingan dengan laut, terumbu karang berfungsi sebagai benteng pertahanan utama dalam menghadapi kondisi pesisir yang kian tak menentu.
Selain peran ekologisnya, terumbu karang menopang mata pencaharian dan mata pencarian masyarakat. Karang menyediakan bahan pangan dan penghasilan melalui perikanan, menarik wisatawan melalui program penyelaman dan pariwisata, serta berkontribusi pada riset ilmiah dan medis. Bagi banyak masyarakat pesisir, terumbu karang juga erat kaitannya dengan kearifan lokal, kenangan, cerita, dan aktivitas sehari-hari di laut. Dalam hal ini, terumbu karang bukan sekadar habitat alami, melainkan juga ruang budaya yang hidup.
Spesies Karang yang Umum Ditemukan
Terumbu karang di Singapura dan Kepulauan Riau, termasuk Bintan, menjadi rumah bagi beragam spesies karang. Walaupun banyak jenis karang yang sama dapat ditemukan di kedua wilayah tersebut, perbedaan tingkat kejernihan air, sedimentasi, pembangunan pesisir, dan kondisi terumbu mempengaruhi jenis karang apa yang paling mendominasi di masing-masing lokasi.
Ada beberapa cara sederhana untuk mengenali jenis karang yang umum. Salah satunya adalah melalui bentuk pertumbuhannya. Ada karang bercabang yang membentuk struktur cabang menyerupai pohon, ada karang masif yaitu tumbuh membulat seperti batu bundar besar, ada karang lembaran yang membentang dalam bentuk lempengan tipis atau lapisan menyerupai dedaunan, ada karang tunggal yang hidup secara independen tanpa berkoloni di dasar laut. Secara bersama-sama, berbagai bentuk karang ini membentuk struktur terumbu yang menyediakan tempat berlindung, area menempel, dan wilayah mencari makan bagi beraneka ragam hayati laut.
Di terumbu karang Singapura, jenis yang sering dicatat antara lain Goniopora, Merulina, Pachyseris, dan Pectinia. Penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa Merulina, Pectinia, Montipora, dan Pachyseris merupakan jenis mendominasi perairan dangkal Singapura. Sementara itu di Bintan, kondisi air yang lebih jernih di beberapa area terumbu mendukung pertumbuhan karang bercabang seperti Acropora. Karang ini cenderung kurang mendominasi di perairan Singapura yang lebih keruh dan bersedimen tinggi. Akibat tekanan urbanisasi pesisir di Singapura, jenis kelompok karang Stylophora kini berstatus terancam punah (critically endangered), sementara Seriatopora hystrix bahkan telah punah secara lokal.

Porites lutea. Foto oleh Philippe Bourjon, lisensi di bawah CC BY-SA 3.0. Untuk melihat salinan lisensi ini, kunjungi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/?ref=openverse.
Porites
Porites adalah salah satu jenis kelompok karang yang paling umum dan mudah dikenali di Singapura maupun Kepulauan Riau, termasuk kawasan Bintan. Karang ini sering tumbuh dalam bentuk koloni bulat menyerupai batu besar (karang masif). Pertumbuhannya terbilang lambat, tetapi sanggup membentuk struktur yang padat dan tangguh dari waktu ke waktu. Bentuknya yang membulat membantu karang ini bertahan dari endapan sedimentasi dan perubahan kondisi air, sehingga sangat cocok hidup di lingkungan terumbu yang lebih keruh. Oleh karena itu, Porites memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas dan struktur jangka panjang pada terumbu karang di kawasan perkotaan.

Karang Acropora. Pulau Kusu, Singapura, 16 Maret 2021. Dokumen milik Sam Shu Qin.
Acropora
Acropora merupakan salah satu jenis kelompok karang bercabang yang paling populer. Bentuk pertumbuhannya bisa menyerupai ranting pohon yang rumit maupun meja, menciptakan celah-celah kompleks yang menjadi tempat bersembunyi bagi ikan-ikan kecil dan satwa laut lainnya. Karang ini tumbuh dengan cepat dan menjadi pembentuk terumbu yang penting. Namun, Acropora sangat sensitif terhadap perubahan suhu, sedimentasi, dan kualitas air. Di perairan Singapura yang bersedimen tinggi dan keruh, keberadaan Acropora terbilang terbatas. Sebaliknya, di area terumbu yang lebih jernih di sekitar Bintan, karang bercabang seperti Acropora lebih sering dijumpai.

Karang Montipora. Teluk Bakau, Bintan, November 2025. Dokumen milik NTU CCA Singapore.
Montipora
Montipora adalah jenis kelompok karang lembaran yang umum dijumpai. Alih-alih tumbuh menyerupai batu atau cabang, banyak jenis Montipora membentuk lempengan tipis, lembaran, atau permukaan berlapis. Bentuk ini membantu karang menyerap sinar matahari secara lebih efisien—hal yang sangat krusial karena karang mengandalkan alga mikroskopis di dalam jaringannya sebagai sumber energi utama. Karang lembaran seperti Montipora menambah kompleksitas struktur terumbu, menciptakan banyak permukaan dan celah kecil bagi berbagai organisme.

Spesies karang Turbinaria mesenterina. Taman karang ONE°15 Marina Sentosa Cove Singapore, 17 Juni 2021. Dokumen milik Sam Shu Qin.
Turbinaria
Turbinaria adalah jenis kelompok karang yang mudah dikenali dari bentuknya yang menyerupai piringan, cangkir, atau dedaunan. Beberapa spesiesnya tampak seperti kelopak kubis yang melebar dalam lembaran melengkung. Bentuk ini membantu karang menangkap sinar matahari di perairan dengan visibilitas rendah, sekaligus mencegah penumpukan sedimen pada permukaannya. Karena keunggulannya ini, Turbinaria dapat tumbuh subur di lingkungan terumbu Singapura yang cenderung keruh dan kaya sedimen. Bentuknya yang berlapis turut memperkaya struktur terumbu karang.



