Karang Mati, foto oleh prilfish, lisensi di bawah CC BY 2.0. Dokumentasi prilfish. Untuk melihat salinan lisensi ini, kunjungi https://creativecommons.org/licenses/by/2.0/?ref=openverse.

Pentingnya Terumbu Karang dan Ancaman yang Dihadapi
Sebuah laporan yang dibahas dalam jurnal Nature pada Oktober 2025 menyatakan bahwa terumbu karang perairan hangat menjadi sistem utama Bumi pertama yang melewati titik kritis iklim. Tanpa tindakan drastis untuk menghentikan dan memulihkan perubahan iklim, penurunan kondisi terumbu karang akan sangat sulit untuk dipulihkan. Fenomena pemutihan karang global periode 2023–2025 telah berdampak pada sekitar 84% terumbu karang di seluruh dunia.
Perubahan iklim dan pemanasan suhu laut memicu stres panas yang berujung pada pemutihan karang secara masal. Saat kondisi ini terjadi, alga simbiotik (zooxanthellae) yang hidup di tubuh karang dapat menghasilkan radikal bebas berbahaya ketika suhu melewati ambang batas tertentu. Hal ini menjadi racun bagi karang, memaksa mereka mengeluarkan alga tersebut hingga warnanya memucat dan memutih. Meski karang terkadang dapat menerima kembali alga simbiotiknya dan bertahan hidup dalam jangka pendek tanpa alga, gelombang panas laut (marine heatwaves) yang berkepanjangan dapat memicu kematian karang secara massal. Di area terumbu yang dangkal, paparan sinar matahari dan sinar UV yang berlebihan semakin memperparah stres panas ini, terutama jika suhu air tetap tinggi dalam waktu yang lama.
Di Asia Tenggara, populasi karang menghadapi berbagai ancaman yang saling bertumpuk. Di wilayah Segitiga Terumbu Karang dan perairan sekitarnya, termasuk Kepulauan Riau, salah satu tantangan terbesar datang dari lonjakan populasi pesisir, aktivitas pelayaran, infrastruktur pariwisata, reklamasi lahan, serta pembangunan industri. Di sekitar Singapura, terumbu karang telah lama terdampak oleh pengerukan, reklamasi, aktivitas pelabuhan, dan padatnya lalu lintas pelayaran yang meningkatkan sedimentasi serta kekeruhan air. Dampaknya adalah air menjadi keruh dan kaya endapan, yang membuat karang kekurangan paparan cahaya. Kapal dan proyek pesisir juga mengaduk sedimen di dasar laut, menciptakan kondisi "kekeruhan parah" yang memblokir sinar matahari dan menghambat kemampuan fotosintesis karang. Selain itu, karang dapat mengalami stres akibat kebisingan yang dihasilkan oleh lalu lintas kapal, konstruksi, dan aktivitas industri.
Tekanan serupa juga terlihat di Bintan. Di bagian utara pulau Bintan, pembangunan resor di kawasan Lagoi telah mengubah sebagian garis pantai demi kepentingan pariwisata. Konstruksi pesisir, lalu lalang perahu, dan infrastruktur pantai memberikan tekanan tersendiri bagi lingkungan terumbu di sekitarnya. Di sudut Bintan lainnya dan kawasan Kepulauan Riau yang lebih luas, alih fungsi lahan, penambangan bauksit, limpasan dari perkebunan, serta aktivitas budidaya perikanan (termasuk tambak udang) meningkatkan masukan sedimen, nutrisi, dan polutan ke perairan pesisir. Terumbu karang sangat sensitif terhadap zat beracun dan perubahan kualitas air. Pupuk, limbah domestik, limbah perkebunan, serta aliran dari tambak budidaya dapat mengubah kadar nutrisi, memicu ledakan pertumbuhan alga (algal bloom), dan menurunkan kesehatan karang. Sampah laut, yang didominasi oleh plastik, secara bertahap terurai menjadi mikroplastik. Sampah ini tidak hanya membawa zat berbahaya dan merusak jaringan karang, tetapi juga menghalangi sinar matahari. Ditambah lagi, limbah lumpur minyak (oil sludge) dan tumpahan minyak memberikan tekanan ekstra, terutama di jalur maritim yang padat seperti Singapura dan Selat Singapura.
Pengasaman samudera menjadi ancaman jangka panjang lainnya. Seiring bertambahnya penyerapan CO2 oleh laut, pH air laut menurun dan ion karbonat menjadi kian terbatas, sehingga karang kesulitan membangun kerangka kalsium karbonatnya. Meski pengasaman bukanlah ancaman lokal yang paling mendesak jika dibandingkan dengan pemanasan suhu, sedimentasi, dan pencemaran, fenomena ini dapat melemahkan pertumbuhan terumbu dan mengurangi daya tahan jangka panjangnya.
Ancaman lokal dan regional lainnya yang tak kalah serius adalah praktik penangkapan ikan yang merusak. Penangkapan ikan menggunakan bom dinamit untuk menciptakan ledakan bawah air agar ikan pingsan atau terbunuh lalu mengapung ke atas laut dan dikumpulkan. Praktik ini sebenarnya telah dilarang di banyak negara ASEAN, namun sisa-sisa ledakan di masa lalu serta praktik yang masih kucing-kucingan telah merusak terumbu karang dan mengganggu habitat berkembang biak bagi ikan maupun karang itu sendiri. Praktik merusak lainnya, seperti penggunaan sianida, pukat garuk, pembuangan jangkar secara sembarangan, hingga karang yang terinjak-injak oleh pengunjung, dapat mematahkan koloni karang secara fisik dan memperlambat pemulihannya. Selain itu, penangkapan ikan berlebihan menguras populasi ikan herbivora yang bertugas memakan alga. Tanpa kehadiran ikan-ikan ini, alga dapat tumbuh tak terkendali menutupi karang dan menghalangi karang muda untuk menempel dan tumbuh.
Klip-klip video di bawah ini membagikan perspektif dan pendapat dari berbagai kolaborator tentang pentingnya terumbu karang dan ancaman yang dihadapi.
Mak Dara, mantan nelayan, Dompak, Tanjungpinang
Raja Taufik Zulfikar, Kepala Bidang Kelautan, Konservasi, dan Pengawasan DKP Kepri, Tanjungpinang
Madu, Orang Laut di Kampung Masiran, Kawal, Bintan
Henky Irawan, Dosen di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Tanjungpinang
Johanes Jamil, Orang Laut di Kampung Masiran, Kawal, Bintan